Istilah Impact Factor Scopus cukup sering digunakan oleh akademisi ketika mencari jurnal internasional untuk publikasi. Padahal, secara teknis, Journal Impact Factor (JIF) bukanlah metrik milik Scopus. JIF merupakan metrik dari Journal Citation Reports (JCR) milik Web of Science (WoS), sedangkan Scopus menyediakan metrik seperti CiteScore, CiteScore Percentile, SJR, dan SNIP.
Perbedaan ini penting dipahami, terutama bagi dosen dan peneliti yang sedang memilih jurnal untuk publikasi, kenaikan jabatan akademik, rekognisi institusi, atau strategi membangun rekam jejak publikasi internasional.
Hukumonline juga menyoroti bahwa memilih jurnal Scopus tidak cukup hanya dengan melihat Q1-Q4. Status indeksasi, coverage Scopus, dampak sitasi, reputasi jurnal, serta potensi jurnal mengalami discontinuation perlu diperiksa sebelum artikel dikirim.
Mengapa Akademisi Tidak Boleh Hanya Fokus pada Kuartil (Q1-Q4)?
Kuartil sering menjadi indikator pertama yang dilihat ketika akademisi mencari jurnal. Q1 biasanya dianggap paling tinggi, kemudian Q2, Q3, dan Q4.
Masalahnya, kuartil hanya menunjukkan posisi relatif jurnal dalam kategori bidang tertentu. Kuartil tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh kondisi jurnal, termasuk keberlanjutan indeksasi dan perkembangan dampak sitasinya.
Scopus sendiri menyediakan berbagai metrik sehingga evaluasi jurnal sebaiknya tidak dilakukan dengan satu indikator saja. Elsevier secara eksplisit menganjurkan penggunaan lebih dari satu metrik kuantitatif dan tetap mempertimbangkan penilaian kualitatif.
Jebakan “Kuartil Tinggi” dan Risiko Jurnal Terdiskontinu (Discontinued)
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara rekam jejak kuartil dan status indeksasi saat ini.
Sebuah jurnal dapat terlihat memiliki riwayat Q1 atau Q2 pada sumber pemeringkatan tertentu, tetapi statusnya di Scopus dapat berubah. Hukumonline memberi contoh bahwa jurnal yang masih terlihat Q1 di SCImago dapat memiliki status berbeda di Scopus, termasuk kemungkinan sudah discontinued.
Bagi penulis, kondisi tersebut penting karena memilih jurnal seharusnya tidak hanya berdasarkan screenshot atau klaim promosi yang menyebut “Q1”. Status jurnal perlu diverifikasi pada sumber resmi dan pada periode yang relevan dengan kebutuhan publikasi.
Scopus menyediakan informasi source dan status coverage sebagai bagian dari informasi jurnal. Source page juga menampilkan metrik dan informasi publikasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi jurnal.
Pentingnya Mengukur Metrik Dampak (Impact Metric) Secara Riil bagi Dosen
Metrik jurnal digunakan untuk membantu melihat bagaimana publikasi dalam sebuah jurnal mendapatkan perhatian melalui sitasi. Akan tetapi, metrik tidak seharusnya dipakai secara terpisah dari konteks bidang ilmu.
Elsevier menekankan prinsip responsible research assessment, yaitu menggunakan kombinasi input kuantitatif dan kualitatif, serta tidak bergantung pada satu metrik saja.
Bagi dosen, pendekatan ini lebih aman ketika menentukan jurnal. Selain melihat Q1-Q4, periksa juga CiteScore, percentile, SJR, SNIP, status Scopus, scope jurnal, kualitas editorial, dan rekam publikasinya.
Memahami Salah Kaprah “Impact Factor Scopus” vs Web of Science
Kesalahan istilah paling umum adalah menyebut Journal Impact Factor sebagai Impact Factor Scopus.
Padahal keduanya berasal dari ekosistem yang berbeda.
Scopus menggunakan CiteScore sebagai salah satu metrik utamanya, sedangkan Journal Impact Factor (JIF) merupakan metrik yang tersedia melalui Journal Citation Reports dari Web of Science.
Perbedaan Mendasar CiteScore (Scopus) dan Journal Impact Factor (WoS)
CiteScore adalah metrik Scopus yang mengukur dampak sitasi sumber berdasarkan dokumen yang terindeks Scopus. Metodologi CiteScore menggunakan jendela empat tahun. Contohnya, CiteScore 2024 menggunakan sitasi selama 2021-2024 terhadap artikel, review, conference paper, book chapter, dan data paper yang diterbitkan pada periode tersebut, kemudian dibagi dengan jumlah dokumen tipe yang sama pada periode tersebut.
Sementara itu, Journal Impact Factor menghitung sitasi pada tahun JCR terhadap scholarly items yang diterbitkan dalam dua tahun sebelumnya, kemudian dibagi jumlah scholarly items yang relevan dalam dua tahun tersebut.
Gambaran sederhananya:
| Metrik | Platform | Gambaran |
|---|---|---|
| CiteScore | Scopus | Dampak sitasi berdasarkan metodologi Scopus |
| Journal Impact Factor | Web of Science/JCR | Metrik dampak jurnal dalam ekosistem WoS |
| SJR | SCImago | Mengukur prestige sitasi dengan bobot reputasi sumber pemberi sitasi |
| SNIP | Scopus | Metrik yang menormalisasi dampak terhadap karakteristik bidang |
Karena itu, ketika seseorang mencari “Impact-Factor Scopus”, istilah yang secara teknis lebih tepat untuk metrik Scopus adalah CiteScore, bukan Journal Impact Factor.
SCImago Journal Rank (SJR) dan SNIP sebagai Pengukur Reputasi Global
Selain CiteScore, Scopus juga menampilkan SJR dan SNIP sebagai metrik yang membantu membaca performa jurnal.
SJR atau SCImago Journal Rank memperhitungkan bobot prestige jurnal yang memberikan sitasi. Dengan pendekatan tersebut, sitasi dari sumber yang memiliki prestige lebih tinggi memiliki bobot yang berbeda dibandingkan sitasi dari sumber dengan prestige lebih rendah.
SNIP atau Source Normalized Impact per Paper digunakan untuk mempertimbangkan perbedaan pola sitasi antarbidang. Elsevier menjelaskan bahwa SNIP merupakan salah satu metrik field-normalized yang dapat membantu membandingkan dampak publikasi dengan mempertimbangkan citation potential suatu bidang.
Panduan Resmi Cara Cek CiteScore di Situs Resmi Scopus
CiteScore dapat diperiksa melalui Scopus Sources, yang tersedia secara gratis melalui Scopus. Elsevier menyediakan akses ke data CiteScore dan berbagai source metrics untuk membantu peneliti mengevaluasi jurnal sebelum menentukan tempat publikasi.
Langkah Langkah Akses Fitur Sources di Scopus.com
Langkah dasarnya sebagai berikut.
- Pertama, buka situs Scopus dan masuk ke bagian Sources.
- Kedua, cari jurnal berdasarkan judul, ISSN, publisher, atau subject area. Tutorial resmi Scopus menyebutkan bahwa Sources dapat digunakan untuk menelusuri source title dengan beberapa parameter tersebut.
- Ketiga, pilih judul jurnal yang sesuai.
- Keempat, periksa informasi pada source page, termasuk CiteScore, CiteScore Percentile, ranking, kuartil, SJR, SNIP, dan informasi coverage jurnal. Scopus juga menyediakan fitur Compare Sources sehingga beberapa jurnal dapat dibandingkan sebelum penulis menentukan target publikasi.
- Kelima, lihat tahun metrik yang sedang digunakan. Jangan mencampurkan CiteScore tahun tertentu dengan klaim kuartil dari tahun lain tanpa konteks.
Cara Membaca Grafik Tren Dampak Jurnal (CiteScore Tracker)
Selain CiteScore tahunan, Scopus menyediakan CiteScore Tracker.
Tracker diperbarui setiap bulan dan menunjukkan perkembangan metrik tahun berjalan. Berbeda dari CiteScore tahunan yang sudah final, CiteScore Tracker merupakan indikator perkembangan menuju nilai tahunan berikutnya. Hal ini berguna untuk melihat apakah performa sitasi jurnal sedang meningkat, stabil, atau mengalami perubahan.
Tracker bukan pengganti CiteScore tahunan. Ketika menuliskan metrik dalam artikel, laporan, CV, atau dokumen akademik, sebaiknya disebutkan nama metrik dan tahun yang dirujuk. Scopus juga menyarankan agar informasi metrik disertai sumber dan konteks subject category ketika relevan.
Panduan Resmi Cara Cek SJR Melalui SCImago Journal Rank
Selain Scopus, jurnal yang terindeks Scopus dapat ditelusuri melalui SCImago Journal Rank (SCImagoJR).
SCImago menyediakan data SJR, H Index, total dokumen, total sitasi, Citable Documents, serta Cites per Document yang dapat digunakan untuk membaca profil sebuah jurnal.
Cara Mencari Nilai SJR dan Rekam Jejak Kuartil Jurnal
Buka situs SCImago Journal Rank, lalu cari nama jurnal yang ingin diperiksa.

Pada halaman jurnal, penulis dapat melihat nilai SJR dan informasi kuartil berdasarkan kategori subjek tertentu.
Penting untuk mengingat bahwa kuartil harus dibaca bersama subject category dan tahun. Satu jurnal bisa memiliki posisi yang berbeda ketika masuk dalam kategori bidang yang berbeda.
SCImago juga menyediakan data historis sehingga pengguna dapat melihat perkembangan performa jurnal dari tahun ke tahun.
Riwayat tersebut berguna untuk melihat apakah posisi jurnal relatif stabil atau mengalami perubahan yang signifikan.
Membaca Rasio Sitasi per Dokumen (Cites per Doc) untuk Memastikan Validitas
Cites per Doc memberikan gambaran mengenai rata-rata sitasi berdasarkan metodologi dan periode yang ditampilkan SCImago.
Data SCImago mencantumkan indikator seperti Cites / Doc. (2years) bersama total citations dan citable documents.
Angka ini dapat digunakan sebagai informasi tambahan ketika membandingkan beberapa jurnal dalam bidang yang sama. Jangan menggunakan satu angka tersebut sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan kualitas jurnal.
Lebih baik membacanya bersama SJR, H Index, total sitasi, jumlah dokumen, kuartil, dan informasi sumber lainnya.
Strategi Memilih Jurnal Publikasi Global yang Aman dan Bereputasi
Memilih jurnal bukan sekadar mencari angka Q1, Q2, atau CiteScore tertinggi. Jurnal yang terlihat menarik di satu indikator belum tentu menjadi pilihan paling tepat untuk artikel Anda.
Target publikasi sebaiknya sudah dipertimbangkan sejak awal penulisan, bukan setelah naskah selesai. Pandangan ini juga sejalan dengan pembahasan akademisi yang dikutip Hukumonline bahwa tema, scope, keterbatasan jumlah kata, dan karakter artikel sebaiknya diselaraskan dengan jurnal target sejak awal.
Kesimpulan
Istilah Impact Factor Scopus perlu dipahami dengan tepat. Secara teknis, Journal Impact Factor adalah metrik Web of Science melalui Journal Citation Reports, sedangkan pada Scopus indikator yang paling relevan untuk melihat dampak sitasi jurnal adalah CiteScore beserta CiteScore Percentile, SJR, dan SNIP.
Perlu Konsultasi Karir Dosen?
Hubungi tim expert dari GoAcademica untuk konsultasi gratis menentukan jadwal konsultasi 1-on-1 Anda melalui Konsultasi Karir Dosen dari GoAcademica.
FAQ
Apakah Scopus memiliki Impact Factor?
Scopus tidak menggunakan istilah Journal Impact Factor sebagai metrik utamanya. Metrik dampak sitasi yang digunakan Scopus antara lain CiteScore, sedangkan Journal Impact Factor merupakan bagian dari Journal Citation Reports milik Web of Science.
Apa pengganti Impact Factor di Scopus?
Metrik yang paling sering digunakan untuk menggambarkan dampak sitasi jurnal di Scopus adalah CiteScore. Scopus juga menyediakan CiteScore Percentile, SJR, dan SNIP sebagai metrik tambahan.
Apakah Q1 lebih penting daripada CiteScore?
Tidak selalu. Q1 menunjukkan posisi relatif jurnal dalam subject category, sedangkan CiteScore menunjukkan metrik dampak sitasi dengan metodologi Scopus. Keduanya sebaiknya dibaca bersama indikator lain dan konteks bidang ilmu.
Apakah jurnal Q1 pasti masih terindeks Scopus?
Tidak boleh diasumsikan. Penulis perlu mengecek status jurnal secara aktual pada Scopus karena status indeksasi dapat berubah. Hukumonline juga menyoroti risiko jurnal yang secara historis memiliki kuartil tinggi tetapi status Scopus-nya sudah berubah atau discontinued.
Di mana cara cek CiteScore jurnal?
CiteScore dapat diperiksa melalui fitur Sources di Scopus. Elsevier menyediakan akses gratis ke CiteScore metrics dan source information.
Di mana cara cek SJR jurnal?
SJR dapat diperiksa melalui platform SCImago Journal Rank dengan mencari judul jurnal yang diinginkan. Platform tersebut menampilkan SJR, kuartil, H Index, sitasi, dan beberapa indikator lainnya.

