Research gap adalah ruang pengetahuan, bukti, teori, metode, konteks, populasi, atau praktik yang belum terjawab secara memadai oleh penelitian sebelumnya. Research gap menjadi salah satu dasar penting untuk menjelaskan mengapa sebuah penelitian perlu dilakukan dan kontribusi apa yang diharapkan dari penelitian tersebut.
Research gap bukan sekadar pernyataan:
“Belum banyak penelitian yang membahas topik ini.”
Pernyataan tersebut belum cukup kuat apabila tidak disertai bukti dari literatur. Research gap yang baik menunjukkan tiga hal: apa yang sudah diketahui, apa yang masih belum diketahui atau belum konsisten, dan bagaimana penelitian baru akan memberikan jawaban terhadap kekosongan tersebut.
Apa Itu Research Gap?
Research gap menunjukkan bagian dari pengetahuan ilmiah yang masih memiliki keterbatasan, ketidakjelasan, inkonsistensi, atau belum diuji secara memadai.
Secara sederhana, logikanya dapat dirumuskan sebagai:
What we know → What we do not know → What this study does
Contohnya, sejumlah penelitian telah menemukan hubungan antara kualitas layanan dan loyalitas pelanggan. Akan tetapi, hasilnya belum konsisten ketika diterapkan pada layanan digital berbasis langganan. Kondisi tersebut dapat menjadi titik awal untuk mencari research gap yang lebih spesifik.
Research gap kemudian harus diterjemahkan menjadi pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, metode, dan kontribusi yang dapat benar-benar diuji melalui data.
Mengapa Research Gap Penting?
Research gap berfungsi sebagai penghubung antara penelitian terdahulu dan penelitian yang akan dilakukan.
1. Menjelaskan alasan penelitian
Peneliti dapat menunjukkan mengapa topik tersebut masih relevan untuk diteliti.
2. Menentukan fokus penelitian
Gap membantu mempersempit topik yang terlalu luas menjadi masalah penelitian yang lebih spesifik.
3. Menentukan kontribusi
Penelitian tidak hanya mengulang studi sebelumnya, tetapi memiliki alasan yang jelas untuk menambahkan bukti, memperluas teori, menguji metode, atau menjelaskan konteks tertentu.
4. Membentuk novelty
Novelty seharusnya muncul sebagai respons terhadap gap, bukan sekadar karena judul penelitian menggunakan variabel atau lokasi yang berbeda.
Jenis-Jenis Research Gap
Research gap dapat muncul dalam berbagai bentuk. Satu penelitian bahkan dapat memiliki lebih dari satu jenis gap, tetapi peneliti perlu menentukan mana yang menjadi fokus utama.
1. Empirical Gap
Empirical gap muncul ketika bukti empiris yang tersedia masih terbatas, tidak konsisten, atau menghasilkan temuan yang bertentangan.
Contoh:
Sebagian penelitian menemukan kualitas layanan meningkatkan loyalitas pelanggan, tetapi penelitian lain tidak menemukan pengaruh yang signifikan.
Gap tersebut dapat mendorong penelitian untuk menguji kembali hubungan tersebut dengan desain, sampel, atau kondisi tertentu yang lebih relevan.
2. Theoretical Gap
Theoretical gap muncul ketika teori yang ada belum sepenuhnya menjelaskan suatu fenomena atau terdapat aspek fenomena yang belum terakomodasi.
Contohnya, sebuah teori menjelaskan faktor yang memengaruhi keputusan konsumen, tetapi belum menjelaskan bagaimana faktor tersebut bekerja dalam konteks platform digital tertentu.
Penelitian kemudian dapat menguji perluasan teori, mekanisme tertentu, atau kondisi batasnya.
3. Methodological Gap
Methodological gap muncul ketika sebagian besar penelitian sebelumnya menggunakan pendekatan tertentu sehingga masih terdapat keterbatasan dalam cara fenomena dipelajari.
Misalnya, penelitian terdahulu didominasi survei cross-sectional, sementara belum banyak penelitian yang menggunakan longitudinal design untuk melihat perubahan dari waktu ke waktu.
Gap metodologis harus menunjukkan mengapa metode baru dapat memberikan bukti yang berbeda atau lebih sesuai untuk pertanyaan penelitian.
4. Contextual Gap
Contextual gap terjadi ketika bukti penelitian masih terkonsentrasi pada konteks tertentu, sedangkan konteks lain belum memperoleh perhatian yang memadai.
Contohnya:
Sebagian besar penelitian dilakukan pada perusahaan teknologi di negara maju, sedangkan bukti pada perusahaan berbasis digital di negara berkembang masih terbatas.
Perbedaan konteks tidak otomatis menjadi research gap. Peneliti harus menjelaskan mengapa konteks tersebut penting secara teoritis atau empiris.
5. Population Gap
Population gap terjadi ketika kelompok tertentu belum cukup terwakili dalam literatur.
Contohnya:
Penelitian sebelumnya banyak melibatkan konsumen usia dewasa, sedangkan pengalaman pengguna dari kelompok usia tertentu belum banyak diteliti.
Gap ini dapat menjadi dasar penelitian dengan karakteristik populasi yang berbeda.
6. Practical atau Policy Gap
Gap ini muncul ketika temuan akademik yang tersedia belum memberikan jawaban yang cukup terhadap kebutuhan praktik, organisasi, atau kebijakan.
Contohnya, penelitian telah mengidentifikasi faktor yang memengaruhi efektivitas suatu program, tetapi belum menjelaskan bagaimana temuan tersebut dapat diterapkan dalam pengambilan keputusan di tingkat institusi.
Research Gap Bukan Sekadar “Belum Pernah Diteliti”
Salah satu kesalahan yang sering muncul adalah menganggap lokasi baru otomatis menjadi novelty.
Misalnya:
“Belum pernah dilakukan di Kota Bandung.”
Pernyataan tersebut belum menjelaskan mengapa penelitian di Bandung penting. Research gap akan lebih kuat apabila peneliti dapat menunjukkan bahwa karakteristik konteks Bandung memiliki kondisi tertentu yang dapat mengubah hubungan, mekanisme, atau interpretasi yang ditemukan pada penelitian sebelumnya.
Demikian pula dengan pernyataan:
“Belum ada penelitian yang menggunakan 10 variabel.”
Jumlah variabel bukan ukuran kualitas research gap. Yang lebih penting adalah alasan teoritis dan empiris mengapa variabel tersebut perlu ditambahkan.
Cara Menemukan Research Gap
Menemukan research gap membutuhkan pembacaan literatur yang sistematis, bukan hanya membaca satu atau dua artikel.
1. Tentukan topik dan batas literatur
Tentukan terlebih dahulu topik, konstruk, populasi, konteks, serta periode literatur yang ingin dikaji.
Contoh:
Digital banking → switching intention → pengguna bank syariah → Indonesia → literatur 2020–2026.
Batas ini membantu pencarian literatur menjadi lebih terarah.
2. Cari penelitian utama
Gunakan kombinasi penelitian seminal dan penelitian terbaru. Artikel seminal membantu memahami konsep atau teori dasar, sedangkan penelitian mutakhir menunjukkan perkembangan bukti terbaru.
3. Identifikasi pola temuan
Kelompokkan penelitian berdasarkan:
- Temuan yang konsisten.
- Temuan yang bertentangan.
- Variabel atau konstruk yang digunakan.
- Konteks penelitian.
- Populasi atau sampel.
- Metode yang digunakan.
Dari sini biasanya mulai terlihat bagian literatur yang belum solid.
4. Periksa keterbatasan penelitian terdahulu
Perhatikan bagian limitation, discussion, implications, dan suggestions for future research.
Tetapi jangan langsung menyalin kalimat “future research” sebagai research gap. Verifikasi terlebih dahulu apakah keterbatasan tersebut memang relevan dengan masalah penelitian Anda.
5. Bandingkan antarpenelitian
Research gap sering muncul justru dari perbandingan beberapa studi.
Misalnya:
| Studi | Konteks | Metode | Temuan | Keterbatasan | Peluang |
|---|---|---|---|---|---|
| A | Negara X | Survei | Positif | Cross-sectional | Uji konteks berbeda |
| B | Negara Y | Survei | Tidak signifikan | Sampel terbatas | Uji mekanisme |
| C | Negara X | Eksperimen | Positif | Variabel terbatas | Tambahkan boundary condition |
Matriks semacam ini membantu peneliti melihat pola, bukan sekadar mengumpulkan daftar artikel.
Literature Gap Matrix
Literature gap matrix merupakan alat praktis untuk memetakan penelitian terdahulu.
Kolom yang dapat digunakan antara lain:
| Elemen | Isi |
|---|---|
| Author & Year | Penulis dan tahun |
| Context | Negara, industri, institusi, atau setting |
| Population/Sample | Karakteristik sampel |
| Variables/Focus | Variabel atau fokus penelitian |
| Theory | Teori yang digunakan |
| Method | Metode dan desain |
| Findings | Temuan utama |
| Limitation | Keterbatasan |
| Research Opportunity | Peluang penelitian |
Tidak semua kolom harus digunakan. Struktur matriks sebaiknya disesuaikan dengan jenis penelitian dan pertanyaan yang ingin dijawab.
Cara Memastikan Research Gap Benar-Benar Kuat
Research gap yang kuat biasanya dapat menjawab empat pertanyaan berikut.
1. Apa yang sudah diketahui?
Jelaskan konsensus atau temuan utama dari penelitian terdahulu.
2. Apa yang belum diketahui?
Identifikasi bagian yang masih kurang jelas, tidak konsisten, terbatas, atau belum diuji.
3. Apa buktinya?
Sertakan artikel yang menunjukkan adanya kekosongan tersebut.
4. Apa yang dilakukan penelitian ini?
Tunjukkan secara langsung bagaimana penelitian Anda merespons gap.
Struktur argumentasinya dapat ditulis:
Previous studies have established X. However, evidence regarding Y remains inconsistent, particularly in Z context. Therefore, this study examines A using B approach.
Dalam penulisan Bahasa Indonesia, logikanya menjadi:
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan X. Akan tetapi, bukti mengenai Y masih belum konsisten, terutama dalam konteks Z. Oleh karena itu, penelitian ini menguji A dengan menggunakan pendekatan B.
Hubungan Research Gap dan Novelty
Research gap dan novelty bukan istilah yang sama.
Research gap menunjukkan apa yang masih kurang dalam pengetahuan yang tersedia.
Novelty menunjukkan kontribusi baru yang diberikan penelitian untuk merespons kekurangan tersebut.
Contoh:
Gap: Bukti mengenai pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas pada platform digital berbasis langganan masih tidak konsisten.
Novelty: Penelitian menguji apakah perceived switching cost berperan sebagai moderator dalam hubungan tersebut pada kelompok pengguna tertentu.
Dengan demikian:
Research Gap → Research Question → Research Objective → Method → Contribution
Rantai tersebut harus konsisten.
Contoh Research Gap
Misalnya Anda meneliti:
“Pengaruh Kualitas Layanan Digital terhadap Loyalitas Pengguna Mobile Banking Syariah.”
Setelah menelaah literatur, Anda menemukan bahwa banyak penelitian melaporkan hubungan positif antara kualitas layanan dan loyalitas. Akan tetapi, hasil pada konteks mobile banking syariah belum konsisten dan sebagian besar studi menggunakan desain cross-sectional dengan fokus pada hubungan langsung.
Research gap yang lebih kuat dapat dirumuskan:
Meskipun penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kualitas layanan digital berhubungan dengan loyalitas pengguna, bukti mengenai mekanisme hubungan tersebut pada mobile banking syariah masih terbatas dan belum konsisten. Selain itu, sebagian besar penelitian berfokus pada efek langsung sehingga kondisi yang dapat memperkuat atau melemahkan hubungan tersebut belum banyak dijelaskan.
Dari gap tersebut, penelitian dapat diarahkan untuk menguji moderator, mediator, populasi tertentu, atau konteks yang memiliki relevansi teoritis.
Contoh Research Gap dalam Penelitian Kualitatif
Research gap tidak selalu berbentuk variabel yang belum diuji.
Misalnya penelitian:
“Pengalaman Dosen Menggunakan Sistem Evaluasi Kinerja Berbasis Digital.”
Literatur mungkin telah menjelaskan tingkat penerimaan teknologi secara kuantitatif. Akan tetapi, belum banyak diketahui bagaimana dosen mengalami proses adaptasi tersebut, bagaimana mereka memaknai perubahan praktik kerja, dan hambatan apa yang muncul dalam pengalaman sehari-hari.
Gap tersebut dapat mengarah pada pendekatan fenomenologi atau studi kualitatif lainnya.
Artinya, research gap harus mengikuti pertanyaan penelitian. Gap penelitian kualitatif tidak harus dipaksakan menjadi “variabel yang belum diuji”.
Research Gap dan State of the Art
State of the art menjelaskan posisi pengetahuan terkini mengenai suatu topik.
Research gap menunjukkan bagian yang masih belum selesai atau belum terjawab dari state of the art tersebut.
Hubungannya dapat dipahami sebagai:
State of the Art → Kondisi Pengetahuan Saat Ini → Research Gap → Kontribusi Penelitian
Karena itu, research gap sebaiknya tidak ditulis sebelum peneliti memahami terlebih dahulu perkembangan literaturnya.
Kesalahan yang Sering Terjadi
1. Mengklaim “belum pernah diteliti”
Klaim tersebut sulit dipertanggungjawabkan jika pencarian literatur tidak dilakukan secara memadai.
2. Menggunakan lokasi baru sebagai novelty otomatis
Perbedaan lokasi belum tentu menghasilkan kontribusi ilmiah.
3. Menjadikan opini pribadi sebagai gap
Research gap harus dapat ditelusuri kembali ke literatur, bukan hanya berdasarkan dugaan peneliti.
4. Hanya mengutip bagian limitation
Limitation penelitian terdahulu adalah petunjuk, bukan research gap otomatis. Peneliti tetap harus menjelaskan relevansi dan bukti yang mendukungnya.
5. Gap tidak terhubung dengan tujuan penelitian
Peneliti menemukan gap A tetapi penelitian justru menjawab masalah B.
6. Novelty tidak mengisi gap
Penelitian menyatakan memiliki novelty, tetapi kontribusinya tidak menjawab kekosongan yang dijelaskan dalam pendahuluan.
Tips Menulis Research Gap dalam Pendahuluan
Bagian research gap sebaiknya tidak berubah menjadi daftar ringkasan artikel.
Gunakan pola argumentasi:
1. Bangun pengetahuan yang sudah ada
Jelaskan apa yang telah ditemukan oleh penelitian terdahulu.
2. Tunjukkan masalah dalam literatur
Tampilkan inkonsistensi, keterbatasan, konteks yang belum teruji, atau perspektif yang belum dijelaskan.
3. Berikan bukti
Gunakan beberapa studi yang relevan untuk mendukung pernyataan tersebut.
4. Nyatakan respons penelitian
Jelaskan secara spesifik apa yang dilakukan penelitian Anda.
Jangan hanya menulis “penelitian ini bertujuan mengisi gap tersebut”. Jelaskan bagaimana gap tersebut benar-benar diisi.
Checklist Research Gap
Sebelum research gap dimasukkan ke proposal atau artikel jurnal, periksa:
- Apakah masalah berasal dari literatur, bukan asumsi pribadi?
- Apakah penelitian utama dan penelitian terbaru sudah dibandingkan?
- Apakah gap dapat dibuktikan dengan referensi?
- Apakah jenis gap sudah jelas?
- Apakah gap cukup spesifik?
- Apakah gap relevan dengan rumusan masalah?
- Apakah metode penelitian mampu menjawab gap?
- Apakah kontribusi penelitian benar-benar merespons gap?
- Apakah klaim generalisasi sesuai dengan desain?
- Apakah novelty dapat dijelaskan dalam satu atau dua kalimat yang konkret?
Kesimpulan
Research gap merupakan dasar argumentasi yang menjelaskan mengapa penelitian baru diperlukan. Gap dapat muncul dalam bentuk empirical, theoretical, methodological, contextual, population, maupun practical/policy gap.
Menemukan research gap membutuhkan proses membaca, membandingkan, dan memetakan literatur. Peneliti perlu mengetahui apa yang sudah diketahui, apa yang masih belum jelas, bukti yang menunjukkan kekosongan tersebut, dan kontribusi apa yang akan diberikan penelitian baru.
Research gap yang baik bukan sekadar menunjukkan bahwa penelitian sebelumnya masih sedikit, tetapi menunjukkan bagian pengetahuan yang belum memadai dan menjelaskan secara konkret bagaimana penelitian baru akan memberikan tambahan bukti atau pemahaman.
GoAcademica membantu mahasiswa, peneliti, dan akademisi dalam memahami metodologi penelitian, literature review, penyusunan research gap, pengembangan novelty, hingga penulisan artikel ilmiah secara lebih terarah.
Perlu Publikasi Jurnal Ilmiah?
Hubungi tim expert dari GoAcademica untuk konsultasi gratis menentukan tujuan publikasi jurnal Anda
FAQ
Apa itu research gap?
Research gap adalah bagian dari pengetahuan, bukti, teori, metode, konteks, populasi, atau praktik yang belum terjawab secara memadai oleh penelitian sebelumnya.
Apakah research gap sama dengan novelty?
Tidak. Research gap menunjukkan kekosongan atau masalah dalam literatur, sedangkan novelty menunjukkan kontribusi baru yang diberikan penelitian untuk merespons gap tersebut.
Bagaimana cara menemukan research gap?
Mulailah dengan mencari penelitian seminal dan terbaru, petakan temuan, bandingkan metode dan konteks, identifikasi hasil yang tidak konsisten atau keterbatasan yang relevan, lalu tentukan bagian yang dapat dijawab oleh penelitian Anda.
Apakah lokasi penelitian baru bisa menjadi research gap?
Bisa, tetapi tidak otomatis. Peneliti harus menjelaskan mengapa konteks baru tersebut penting secara teoritis atau empiris dan mengapa hasil dari konteks sebelumnya belum cukup untuk menjelaskan konteks tersebut.
Apakah research gap harus berasal dari bagian limitation artikel?
Tidak. Limitation dapat menjadi salah satu sumber untuk menemukan gap, tetapi research gap juga dapat muncul dari inkonsistensi hasil, keterbatasan teori, perbedaan metode, populasi yang belum terwakili, atau kebutuhan praktik.
Berapa banyak research gap yang harus ada dalam satu penelitian?
Tidak ada jumlah yang wajib. Satu gap yang spesifik dan dapat dijawab dengan baik lebih berguna daripada banyak gap yang tidak dapat ditangani secara metodologis.
Apakah research gap harus ditulis secara eksplisit dalam artikel?
Sebaiknya iya. Pembaca dan reviewer perlu dapat memahami dengan jelas masalah dalam literatur dan bagaimana penelitian yang dilakukan merespons masalah tersebut.
Apa hubungan research gap dengan rumusan masalah?
Research gap menjadi salah satu dasar pembentukan rumusan masalah. Setelah gap ditemukan, peneliti harus mengubahnya menjadi pertanyaan yang dapat dijawab melalui data dan metode penelitian.
Referensi
- Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). SAGE Publications.
- Grant, C., & Osanloo, A. (2014). Understanding, selecting, and integrating a theoretical framework in dissertation research: Creating the blueprint for your “house.” Administrative Issues Journal, 4(2), 12–26. https://doi.org/10.5929/2014.4.2.9
- Webster, J., & Watson, R. T. (2002). Analyzing the past to prepare for the future: Writing a literature review. MIS Quarterly, 26(2), xiii–xxiii.
- Snyder, H. (2019). Literature review as a research methodology: An overview and guidelines. Journal of Business Research, 104, 333–339. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2019.07.039
