Sequential Explanatory Design merupakan salah satu desain dalam mixed methods yang menempatkan penelitian kuantitatif pada fase pertama, kemudian dilanjutkan dengan penelitian kualitatif untuk menjelaskan atau memperdalam temuan kuantitatif. Desain ini umumnya ditulis dengan notasi QUAN → qual, yang menunjukkan urutan fase kuantitatif dan kualitatif, dengan prioritas kuantitatif pada banyak penerapannya.
Keunggulan desain ini terletak pada hubungan antara kedua fase. Data kuantitatif membantu peneliti mengidentifikasi pola, hubungan, perbedaan, atau hasil yang tidak terduga. Data kualitatif kemudian digunakan untuk memahami konteks dan alasan yang mungkin menjelaskan temuan tersebut.
Dengan demikian, Sequential Explanatory Design bukan sekadar menggabungkan survei dan wawancara, melainkan merancang proses penelitian agar hasil kuantitatif menentukan arah pengumpulan serta analisis data kualitatif.
Apa Itu Sequential Explanatory Design?
Sequential Explanatory Design adalah desain mixed methods yang dilaksanakan melalui dua fase berurutan.
Fase pertama menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur variabel, menguji hubungan, atau mengidentifikasi pola berdasarkan data numerik. Setelah hasilnya dianalisis, peneliti merancang fase kualitatif untuk menjelaskan temuan yang membutuhkan pemahaman lebih mendalam.
Alur dasarnya adalah:
Pengumpulan dan analisis data kuantitatif → Pemilihan fokus atau partisipan kualitatif → Pengumpulan dan analisis data kualitatif → Integrasi temuan.
Sebagai contoh, survei kepuasan pasien menunjukkan bahwa kecepatan pelayanan memperoleh skor rendah. Peneliti kemudian melakukan wawancara untuk memahami pengalaman pasien, hambatan pelayanan, atau situasi yang mungkin menjelaskan skor tersebut.
Hasil akhirnya tidak hanya berupa angka kepuasan dan kumpulan kutipan wawancara, tetapi interpretasi yang menghubungkan keduanya.
Karakteristik Sequential Explanatory Design
1. Menggunakan dua fase berurutan
Penelitian kuantitatif dilaksanakan dan dianalisis terlebih dahulu. Hasil fase pertama menjadi dasar perencanaan fase kualitatif.
2. Memiliki prioritas kuantitatif pada banyak penerapan
Dalam desain ini, fase kuantitatif umumnya menjadi komponen utama, sedangkan fase kualitatif membantu menjelaskan temuan tertentu. Meskipun demikian, bobot relatif kedua fase tetap harus ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian.
3. Pemilihan partisipan kualitatif dapat didasarkan pada hasil kuantitatif
Peneliti tidak harus mewawancarai seluruh responden survei. Partisipan dapat dipilih secara purposif berdasarkan karakteristik atau pola jawaban yang relevan.
4. Integrasi direncanakan sejak awal
Hasil kuantitatif harus memiliki hubungan yang jelas dengan pertanyaan wawancara, pemilihan partisipan, atau fokus analisis kualitatif.
5. Menghasilkan interpretasi gabungan
Kesimpulan akhir perlu menjelaskan apa yang diperoleh dari hubungan kedua fase, bukan hanya menyajikan dua kelompok temuan secara terpisah.
Kapan Sequential Explanatory Design Digunakan?
Desain ini tepat ketika hasil kuantitatif belum cukup untuk menjelaskan suatu fenomena secara menyeluruh.
Beberapa situasi yang sesuai antara lain:
- Hasil survei menunjukkan pola yang belum dapat dijelaskan.
- Terdapat perbedaan skor atau hubungan antarvariabel yang membutuhkan eksplorasi lebih lanjut.
- Hasil statistik bertentangan dengan dugaan awal peneliti.
- Peneliti ingin memahami pengalaman kelompok tertentu berdasarkan hasil survei.
- Hasil pengujian kuantitatif membutuhkan penjelasan kontekstual.
Desain ini tidak selalu diperlukan untuk setiap penelitian survei. Apabila hasil kuantitatif sudah cukup menjawab pertanyaan penelitian dan tidak dibutuhkan penjelasan kualitatif tambahan, penggunaan mixed methods dapat menambah beban penelitian tanpa memberikan kontribusi yang sepadan.
Tahapan Sequential Explanatory Design
1. Menetapkan pertanyaan penelitian
Peneliti perlu merumuskan pertanyaan yang membutuhkan pengukuran kuantitatif sekaligus penjelasan kualitatif.
Contohnya:
“Bagaimana tingkat kepuasan pegawai terhadap sistem evaluasi kinerja digital, dan bagaimana pegawai menjelaskan pengalaman yang berkaitan dengan tingkat kepuasan tersebut?”
Pertanyaan pertama dapat dijawab melalui survei, sedangkan pertanyaan kedua membutuhkan eksplorasi pengalaman.
2. Mengumpulkan dan menganalisis data kuantitatif
Peneliti melaksanakan survei, pengukuran, atau prosedur kuantitatif lainnya sesuai desain yang dipilih.
Analisis dapat menghasilkan statistik deskriptif, perbedaan antarkelompok, hubungan antarvariabel, atau hasil pengujian model.
Pada tahap ini, peneliti perlu mengidentifikasi temuan yang memang membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
3. Menentukan fokus fase kualitatif
Hasil kuantitatif digunakan untuk menentukan siapa yang perlu diwawancarai dan aspek apa yang perlu digali.
Pemilihan partisipan dapat mencakup:
- Extreme cases, yaitu kasus dengan karakteristik atau skor yang sangat tinggi maupun rendah.
- Typical cases, yaitu kasus yang menggambarkan pola umum.
- Contrasting cases, yaitu kelompok yang menunjukkan pola berbeda.
- Cases with unexpected results, yaitu kasus yang hasilnya tidak sesuai dugaan awal.
Pemilihan harus mengikuti tujuan penelitian. Peneliti juga perlu menjelaskan mengapa kelompok tertentu dipilih berdasarkan hasil fase kuantitatif.
4. Mengembangkan instrumen kualitatif
Panduan wawancara dikembangkan berdasarkan hasil kuantitatif yang ingin dijelaskan.
Misalnya, survei menemukan bahwa pegawai dengan masa kerja kurang dari dua tahun menunjukkan tingkat komitmen organisasi yang lebih rendah. Wawancara dapat menggali pengalaman adaptasi, kejelasan peran, dukungan atasan, dan proses onboarding.
Pertanyaan sebaiknya terbuka dan tidak mengarahkan partisipan pada penjelasan yang telah diasumsikan peneliti.
5. Mengumpulkan dan menganalisis data kualitatif
Peneliti melakukan wawancara mendalam, observasi, atau pengumpulan data kualitatif lain yang relevan.
Data dianalisis secara sistematis melalui proses seperti transkripsi, coding, pengembangan tema, dan interpretasi berdasarkan pendekatan kualitatif yang dipilih.
Tujuannya bukan membuktikan bahwa hasil kuantitatif pasti benar, melainkan memahami pengalaman dan konteks yang membantu menjelaskan temuan tersebut.
6. Mengintegrasikan kedua fase
Pada tahap ini, peneliti menghubungkan temuan kuantitatif dengan hasil kualitatif.
Integrasi dapat dilakukan melalui tabel perbandingan, joint display, atau narasi yang menunjukkan bagaimana temuan dari kedua pendekatan saling menjelaskan, melengkapi, atau bahkan bertentangan.
7. Menyusun meta-inference
Meta-inference adalah interpretasi gabungan yang dibangun dari hasil kuantitatif dan kualitatif.
Kesimpulan perlu menunjukkan bagaimana hasil wawancara memperjelas, memperluas, atau memberikan konteks terhadap hasil statistik. Jika kedua fase menghasilkan temuan yang tidak sejalan, perbedaan tersebut juga perlu dianalisis, bukan diabaikan.
Contoh Penerapan Sequential Explanatory Design
Misalnya penelitian berjudul:
“Dukungan Atasan dan Komitmen Organisasi pada Pegawai Baru.”
Peneliti mengumpulkan data survei dari 300 pegawai untuk menguji hubungan dukungan atasan dengan komitmen organisasi. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang kuat pada sebagian kelompok pegawai, tetapi hubungan tersebut relatif lemah pada pegawai dengan masa kerja kurang dari dua tahun.
Temuan tersebut memunculkan pertanyaan: mengapa hubungan yang ditemukan pada kelompok tertentu berbeda dari kelompok lainnya?
Peneliti kemudian memilih sejumlah pegawai berdasarkan pola hasil survei untuk diwawancarai. Wawancara mengeksplorasi pengalaman onboarding, kejelasan tugas, akses terhadap dukungan atasan, dan proses adaptasi di tempat kerja.
Hasil kedua fase dapat diintegrasikan sebagai berikut.
| Temuan Kuantitatif | Temuan Kualitatif | Interpretasi Gabungan |
|---|---|---|
| Hubungan dukungan atasan dan komitmen relatif lemah pada pegawai baru | Pegawai menceritakan ketidakjelasan tugas dan terbatasnya pemahaman prosedur | Dukungan atasan mungkin belum cukup membantu ketika pegawai juga menghadapi ketidakjelasan peran |
| Sebagian pegawai baru menunjukkan komitmen tinggi | Pegawai tersebut menceritakan adanya arahan dan umpan balik yang teratur | Pengalaman dukungan yang konkret dapat membantu menjelaskan variasi komitmen di antara pegawai baru |
Temuan kualitatif dalam contoh tersebut merupakan ilustrasi kemungkinan hasil, bukan kesimpulan yang dapat ditetapkan sebelum wawancara dilakukan.
Penting juga untuk memperhatikan batas interpretasi. Apabila fase kuantitatif menggunakan desain korelasional, peneliti tidak boleh langsung menyimpulkan hubungan sebab-akibat hanya karena fase kualitatif memberikan penjelasan yang masuk akal.
Teknik Sampling pada Fase Kualitatif
Salah satu bagian penting Sequential Explanatory Design adalah connecting, yaitu menghubungkan hasil fase kuantitatif dengan pemilihan partisipan fase kualitatif.
Peneliti dapat membangun matriks seleksi partisipan seperti berikut.
| Kriteria | Hasil Kuantitatif | Alasan Pemilihan | Fokus Wawancara |
|---|---|---|---|
| Skor sangat rendah | Tingkat komitmen rendah | Memahami pengalaman yang berkaitan dengan skor rendah | Hambatan dan pengalaman kerja |
| Skor sangat tinggi | Tingkat komitmen tinggi | Mengidentifikasi pengalaman yang berbeda dari kelompok lain | Dukungan dan pengalaman positif |
| Hasil tidak terduga | Skor tidak sesuai pola umum | Menjelaskan kasus yang menyimpang | Faktor kontekstual yang relevan |
Matriks ini membantu memastikan bahwa pemilihan partisipan tidak dilakukan secara sembarang.
Jumlah partisipan wawancara tidak ditentukan hanya berdasarkan ukuran sampel survei. Kebutuhannya mengikuti tujuan eksplorasi, variasi pengalaman, kedalaman informasi, dan kecukupan data kualitatif.
Integrasi dan Joint Display
Joint display merupakan salah satu cara untuk menunjukkan integrasi kedua fase dalam bentuk yang mudah ditelusuri.
Penyajian hasil dapat meliputi:
- Temuan kuantitatif yang perlu dijelaskan.
- Tema kualitatif yang relevan.
- Hubungan antara hasil statistik dan tema.
- Interpretasi gabungan.
- Implikasi atau pertanyaan lanjutan yang muncul dari integrasi tersebut.
Dengan struktur ini, pembaca dapat melihat bagaimana suatu kesimpulan dibangun. Penelitian tidak hanya menempatkan hasil survei dan wawancara dalam subbagian berbeda, tetapi menunjukkan kontribusi keduanya terhadap pemahaman masalah.
Cara Menulis Metode Sequential Explanatory Design
Agar bagian metode lebih kuat, jelaskan setidaknya lima komponen berikut.
- Alasan memilih mixed methods dan Sequential Explanatory Design.
- Desain, sampel, instrumen, dan teknik analisis kuantitatif.
- Kriteria pemilihan partisipan serta dasar pengembangan panduan wawancara.
- Prosedur pengumpulan dan analisis data kualitatif.
- Titik integrasi serta cara menyusun interpretasi gabungan.
Contoh narasi singkat:
Penelitian ini menggunakan Sequential Explanatory Design dengan fase kuantitatif yang dilaksanakan terlebih dahulu, diikuti fase kualitatif untuk memperdalam temuan survei. Hasil analisis kuantitatif digunakan sebagai dasar pemilihan partisipan wawancara dan penyusunan pertanyaan lanjutan. Selanjutnya, temuan kedua fase diintegrasikan melalui joint display dan interpretasi gabungan untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap masalah penelitian.
Narasi ini perlu disesuaikan dengan prosedur yang benar-benar dilakukan dalam penelitian.
Hubungan dengan Bab Hasil dan Pembahasan
Penyajian hasil sebaiknya mengikuti urutan desain penelitian.
Fase kuantitatif disajikan terlebih dahulu untuk menunjukkan pola utama. Fase kualitatif kemudian menjelaskan temuan yang dipilih untuk dieksplorasi lebih dalam. Setelah itu, hasil integrasi digunakan untuk menunjukkan apa yang diketahui setelah kedua sumber data dipertimbangkan secara bersama.
Rangkaian logikanya adalah:
Hasil Kuantitatif → Pemilihan Fokus Kualitatif → Hasil Kualitatif → Integrasi → Meta-inference.
Urutan ini membuat alur argumentasi lebih jelas dan memudahkan pembaca menilai hubungan antara bukti, interpretasi, dan kesimpulan.
Kesimpulan
Sequential Explanatory Design merupakan desain mixed methods yang memulai penelitian dengan fase kuantitatif, kemudian menggunakan fase kualitatif untuk menjelaskan atau memperdalam temuan sebelumnya.
Kekuatan desain ini terletak pada keterhubungan antarfase. Hasil kuantitatif menentukan fokus eksplorasi kualitatif, sedangkan hasil kualitatif membantu membangun interpretasi yang lebih kontekstual. Integrasi tersebut harus direncanakan sejak awal dan ditunjukkan secara nyata dalam hasil serta pembahasan.
Sequential Explanatory Design yang baik bukan sekadar survei yang diikuti wawancara, melainkan penelitian dengan hubungan metodologis yang jelas antara temuan kuantitatif, eksplorasi kualitatif, dan interpretasi gabungan.
GoAcademica membantu mahasiswa, peneliti, dan akademisi memahami metodologi mixed methods, penyusunan desain penelitian, pengolahan data kuantitatif dan kualitatif, serta penulisan artikel ilmiah secara lebih terarah.
Perlu Publikasi Jurnal Ilmiah?
Hubungi tim expert dari GoAcademica untuk konsultasi gratis menentukan tujuan publikasi jurnal Anda
FAQ
Apa itu Sequential Explanatory Design?
Sequential Explanatory Design adalah desain mixed methods yang menempatkan fase kuantitatif terlebih dahulu, lalu dilanjutkan fase kualitatif untuk menjelaskan atau memperdalam hasil kuantitatif.
Apa notasi Sequential Explanatory Design?
Notasi yang umum digunakan adalah QUAN → qual. Huruf kapital menunjukkan prioritas relatif fase kuantitatif, sedangkan panah menunjukkan bahwa fase kuantitatif dilakukan terlebih dahulu.
Apa perbedaan Sequential Explanatory dan Exploratory Sequential?
Sequential Explanatory mengikuti urutan QUAN → QUAL, sedangkan Exploratory Sequential mengikuti urutan QUAL → QUAN. Pada desain pertama, data kualitatif digunakan untuk menjelaskan hasil kuantitatif. Pada desain kedua, temuan kualitatif dapat digunakan untuk mengembangkan instrumen atau pengujian kuantitatif.
Apakah semua responden survei harus diwawancarai?
Tidak. Partisipan kualitatif dapat dipilih secara purposif berdasarkan hasil survei dan kebutuhan penjelasan. Peneliti perlu menjelaskan kriteria pemilihannya.
Bagaimana menentukan jumlah partisipan kualitatif?
Jumlah partisipan disesuaikan dengan tujuan eksplorasi, variasi pengalaman, kekayaan informasi, dan kecukupan data. Jumlah responden kuantitatif tidak secara otomatis menentukan jumlah partisipan wawancara.
Apa fungsi joint display?
Joint display membantu memperlihatkan hubungan antara temuan kuantitatif, tema kualitatif, dan interpretasi gabungan dalam satu penyajian yang sistematis.
Apakah hasil kualitatif harus mendukung hasil kuantitatif?
Tidak. Temuan kualitatif dapat mendukung, memperluas, memperjelas, atau menunjukkan ketidaksesuaian dengan hasil kuantitatif. Perbedaan tersebut perlu dianalisis untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik.
Apakah Sequential Explanatory Design cocok untuk skripsi?
Cocok apabila rumusan masalah membutuhkan pengukuran kuantitatif sekaligus penjelasan mendalam. Peneliti perlu mempertimbangkan waktu, akses partisipan, sumber daya, dan kemampuan untuk melaksanakan kedua fase secara konsisten.
Referensi
- Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). SAGE Publications.
- Creswell, J. W., & Plano Clark, V. L. (2018). Designing and conducting mixed methods research (3rd ed.). SAGE Publications.
- Ivankova, N. V., Creswell, J. W., & Stick, S. L. (2006). Using mixed-methods sequential explanatory design: From theory to practice. Field Methods, 18(1), 3–20. https://doi.org/10.1177/1525822X05282260
