Perbedaan Grand Theory, Middle Theory dan Applied Theory

Dalam penyusunan penelitian kita tentu kenal istilah Grand Theory, Middle Theory, dan Applied Theory karena sering digunakan untuk menjelaskan posisi teori dalam penelitian. Ketiganya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi masih saling berkaitan.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap ketiga teori tersebut sebagai tahapan yang wajib selalu digunakan.

Padahal pemilihannya bergantung pada masalah penelitian, bidang ilmu, dan kebutuhan kerangka teoritis. Yuk belajar bersama apa sih perbedaan ketiganya dalam artikel ini!

Apa Perbedaan Grand Theory, Middle Theory dan Applied Theory?

Perbedaan utamanya terletak pada tingkat abstraksi, cakupan, dan kedekatan teori dengan fenomena penelitian.

AspekGrand TheoryMiddle TheoryApplied Theory
CakupanSangat luasLebih spesifikSangat spesifik
Tingkat abstraksiTinggiMenengahLebih konkret
FokusMenjelaskan fenomena secara umumMenjelaskan kelompok fenomena tertentuMenjelaskan masalah atau konteks tertentu
Hubungan dengan penelitianTidak selalu langsungLebih dekatPaling langsung
ContohConflict TheorySocial Learning TheoryTechnology Acceptance Model

Secara sederhana kami gambarkan seperti berikut ini:

Grand Theory → Middle Theory → Applied Theory → Fenomena Penelitian

Namun hubungan tersebut merupakan gambaran konseptual, bukan aturan bahwa setiap penelitian harus menggunakan ketiganya.

1. Grand Theory

Grand Theory merupakan teori atau perspektif dengan cakupan luas dan tingkat abstraksi tinggi. Teori ini digunakan untuk melihat fenomena dari sudut pandang yang lebih umum.

Contohnya adalah Conflict Theory yang digunakan untuk menjelaskan persoalan kekuasaan, ketimpangan, dan konflik dalam masyarakat.

Grand Theory biasanya memberikan kerangka besar, tetapi belum tentu mampu menjelaskan hubungan antarvariabel penelitian secara langsung.

2. Middle Theory

Middle Theory atau Middle Range Theory berada pada tingkat abstraksi menengah. Teori ini lebih spesifik dibandingkan Grand Theory dan lebih dekat dengan fenomena empiris.

Contohnya adalah Social Learning Theory yang menjelaskan bagaimana perilaku dapat terbentuk melalui observasi, interaksi, dan lingkungan.

Middle Theory dapat membantu peneliti menghubungkan perspektif umum dengan persoalan yang lebih spesifik. Konsep middle-range theory dikembangkan Robert K. Merton sebagai upaya menghubungkan teori dengan penelitian empiris melalui proposisi yang lebih terbatas dan dapat diuji. (Merton, 1968)

3. Applied Theory

Applied Theory merupakan teori yang paling dekat dengan objek atau masalah penelitian. Teori ini digunakan untuk menganalisis fenomena tertentu dalam konteks yang lebih konkret.

Contohnya adalah Technology Acceptance Model (TAM) untuk penelitian tentang penerimaan teknologi, atau Theory of Planned Behavior (TPB) untuk menjelaskan niat dan perilaku.

Applied Theory biasanya paling mudah dihubungkan dengan variabel, hipotesis, atau indikator penelitian.

Contoh Penerapan dalam Penelitian

Misalnya terdapat penelitian seperti berikut ya:

“Pengaruh Kemudahan Penggunaan dan Kemanfaatan terhadap Minat Mahasiswa Menggunakan E-Learning.”

Peneliti dapat melihat struktur teorinya seperti berikut:

  1. Grand Theory: teori perilaku atau perspektif sosial yang memberikan kerangka umum.
  2. Middle Theory: teori yang menjelaskan proses perilaku atau pembelajaran.
  3. Applied Theory: Technology Acceptance Model (TAM), yang secara langsung menjelaskan penerimaan teknologi melalui konstruk seperti perceived usefulness dan perceived ease of use.

Pada penelitian tertentu yang lebih spesifik, bahkwan struktur tersebut bisa saja tidak digunakan seluruhnya. TAM dapat langsung menjadi teori utama apabila sudah cukup untuk menjelaskan masalah penelitian.

Mana yang Harus Digunakan dalam Penelitian?

Tidak ada aturan universal bahwa setiap skripsi harus memiliki Grand Theory, Middle Theory, dan Applied Theory sekaligus.

Jika penelitian sudah memiliki teori yang secara langsung menjelaskan hubungan antarvariabel, menambahkan teori lain hanya untuk memenuhi pembagian tiga tingkat justru dapat membuat kerangka teori menjadi tidak fokus.

Atas dasar itulah kita perlu memilih teori berdasarkan pertanyaan:

Teori mana yang paling mampu menjelaskan masalah penelitian saya?

Jangan berpikir seperti ini ya:

Teori apa yang harus dicantumkan dalam Bab II?

Cara Menentukan Ketiganya

Agar tidak keliru, lakukan langkah berikut:

1. Tentukan masalah penelitian.
Pahami fenomena yang benar-benar ingin dijelaskan.

2. Identifikasi konsep atau variabel utama.
Tentukan apa yang menjadi pusat penelitian.

3. Cari teori yang paling relevan.
Lihat bagaimana teori tersebut menjelaskan hubungan atau mekanisme yang diteliti.

4. Periksa penelitian terdahulu.
Pastikan teori tersebut memang digunakan dan relevan dalam bidang yang sama.

5. Hindari terlalu banyak teori.
Lebih baik menggunakan sedikit teori yang kuat daripada banyak teori yang tidak memiliki hubungan jelas.

Kesimpulan

Perbedaan Grand Theory, Middle Theory dan Applied Theory terutama terletak pada tingkat keluasan dan kedekatannya dengan fenomena penelitian.

Grand Theory memberikan perspektif yang luas, Middle Theory menjelaskan fenomena pada tingkat yang lebih spesifik, sedangkan Applied Theory digunakan untuk menganalisis masalah yang lebih konkret.

Ketiganya dapat saling melengkapi, tetapi tidak wajib digunakan secara bersamaan. Teori yang dipilih harus benar-benar membantu menjelaskan masalah penelitian dan membangun argumentasi ilmiah.

Perlu Publikasi Jurnal Ilmiah?

Hubungi tim expert dari GoAcademica untuk konsultasi gratis menentukan tujuan jurnal Anda

Scan the code

FAQ

Apa perbedaan paling sederhana antara ketiganya?

Grand Theory bersifat paling luas, Middle Theory lebih spesifik, sedangkan Applied Theory paling dekat dengan masalah penelitian.

Apakah Grand Theory, Middle Theory, dan Applied Theory wajib ada dalam skripsi?

Tidak selalu. Penggunaannya bergantung pada pedoman akademik dan kebutuhan penelitian.

Apakah Applied Theory sama dengan teori utama?

Bisa saja. Dalam penelitian tertentu, Applied Theory justru menjadi teori utama karena paling relevan dengan variabel dan fenomena yang diteliti.

Apakah satu teori bisa memiliki posisi berbeda?

Bisa. Klasifikasi teori sangat bergantung pada disiplin ilmu, tingkat abstraksi, dan cara teori tersebut digunakan dalam penelitian.

Bagaimana menentukan teori yang tepat?

Mulailah dari masalah penelitian dan variabel yang digunakan, kemudian pilih teori yang paling mampu menjelaskan hubungan atau fenomena tersebut.

Referensi

  1. Merton, R. K. (1968). Social theory and social structure. Free Press.
  2. Davis, F. D. (1989). Perceived usefulness, perceived ease of use, and user acceptance of information technology. MIS Quarterly, 13(3), 319–340. https://doi.org/10.2307/249008
  3. Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211. https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90020-T
  4. Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). SAGE Publications.

Scroll to Top