Saat menyusun skripsi, tesis, disertasi, atau artikel jurnal, Anda mungkin menemukan referensi yang tidak mencantumkan DOI dengan jelas.
DOI sering dibutuhkan untuk melengkapi daftar pustaka, terutama ketika menggunakan format APA 7th Edition.
Menemukan DOI sebenarnya tidak sulit. Ada beberapa cara yang dapat digunakan, mulai dari membuka halaman artikel hingga mencarinya melalui Crossref.
Apa Itu DOI Jurnal?
DOI atau Digital Object Identifier adalah pengenal digital unik yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu objek secara persisten, termasuk artikel ilmiah. DOI biasanya memiliki format yang diawali dengan 10. dan diikuti kombinasi karakter tertentu.
Contohnya:
https://doi.org/10.1037/0003-066X.59.1.29
Berbeda dengan URL biasa, DOI dirancang agar tetap dapat mengarahkan pengguna ke informasi objek meskipun lokasi halaman publikasinya berubah.
Cara Mengetahui DOI Jurnal

1. Cek Halaman Resmi Artikel
Cara paling mudah adalah membuka halaman artikel pada website jurnal.
DOI biasanya berada di bagian:
- bawah judul artikel;
- informasi bibliografi;
- bagian citation;
- sidebar artikel;
- atau halaman pertama file PDF.
Formatnya dapat ditampilkan sebagai:
atau hanya:
10.xxxx/xxxxx
Jika DOI tercantum pada halaman resmi penerbit, sebaiknya gunakan DOI tersebut sebagai sumber utama.
2. Cek File PDF Jurnal
Buka file PDF artikel dan lihat halaman pertama.
Banyak penerbit menampilkan DOI di dekat judul, nama penulis, volume, nomor, atau tanggal publikasi.
Namun, tidak semua artikel memiliki DOI. Jika tidak ditemukan dalam PDF, lanjutkan dengan pencarian metadata.
3. Cari Berdasarkan Judul di Crossref
Crossref menyediakan layanan pencarian metadata yang memungkinkan pengguna mencari artikel berdasarkan judul, penulis, DOI, ORCID, atau informasi bibliografi lainnya.
Caranya:
- Langkah 1: Buka Crossref Metadata Search.
- Langkah 2: Masukkan judul artikel secara lengkap.
- Langkah 3: Tambahkan nama penulis jika hasil terlalu banyak.
- Langkah 4: Cocokkan judul, nama penulis, nama jurnal, tahun, dan informasi volume.
- Langkah 5: Salin DOI yang sesuai.
Cara ini sangat berguna ketika artikel tidak menampilkan DOI dengan jelas pada halaman jurnal. Crossref sendiri merekomendasikan penggunaan Metadata Search untuk mencari DOI suatu artikel.
4. Gunakan Google Scholar
Google Scholar juga dapat digunakan sebagai langkah awal.
Cari judul artikel menggunakan tanda kutip:
“Judul lengkap artikel”
Kemudian buka hasil yang sesuai dan periksa halaman penerbitnya. Jangan langsung menganggap URL hasil Google Scholar sebagai DOI karena keduanya berbeda.
Untuk memastikan DOI, cocokkan metadata artikel dengan halaman penerbit atau Crossref.
Bagaimana Mengetahui DOI dari Judul Jurnal?
Perlu dibedakan antara judul jurnal dan judul artikel.
DOI biasanya diberikan pada artikel, bukan sekadar nama jurnal. Satu jurnal dapat menerbitkan ribuan artikel dan setiap artikel dapat memiliki DOI yang berbeda.
Misalnya:
Nama jurnal: Journal of Example Studies
Judul artikel: The Impact of Digital Learning on Student Performance
DOI yang dicari adalah DOI untuk artikel tersebut, bukan DOI jurnal secara keseluruhan.
Karena itu, ketika mencari DOI, gunakan judul artikel, nama penulis, tahun, atau informasi bibliografi yang lebih spesifik.
Cara Cek Apakah DOI Valid
Setelah mendapatkan DOI, jangan langsung menyalinnya ke daftar pustaka. Periksa terlebih dahulu.
Caranya sederhana: ubah DOI menjadi tautan dengan format:
Contoh:
Jika tautan berhasil mengarahkan Anda ke artikel atau halaman resmi publikasi yang sesuai, DOI tersebut dapat digunakan. DOI Foundation menjelaskan bahwa DOI dapat di-resolve melalui doi.org menuju informasi objek yang diidentifikasinya.
Pastikan juga metadata yang muncul sesuai dengan:
- nama penulis;
- judul artikel;
- nama jurnal;
- tahun publikasi.
Bagaimana Jika Jurnal Tidak Memiliki DOI?
Tidak semua artikel ilmiah memiliki DOI.
Hal ini dapat terjadi pada jurnal yang belum menggunakan layanan registrasi DOI atau publikasi lama yang memang tidak pernah diberikan DOI. Crossref menjelaskan bahwa DOI untuk suatu karya didaftarkan oleh penerbit atau organisasi yang menjadi anggota layanan registrasi terkait.
Karena itu, jangan membuat DOI sendiri hanya agar daftar pustaka terlihat lengkap.
Jika DOI memang tidak tersedia, gunakan informasi bibliografi sesuai gaya sitasi yang digunakan.
Cara Menulis DOI dalam APA 7th Edition
Dalam APA 7th Edition, DOI ditulis dalam bentuk URL.
Contoh:
Author, A. A. (2024). Title of article. Journal Name, 10(2), 100–115. https://doi.org/10.xxxx/xxxxx
Tidak perlu menambahkan tulisan “DOI:” sebelum tautan.
Kesimpulan
Cara mengetahui DOI jurnal dapat dilakukan melalui halaman resmi artikel, file PDF, Google Scholar, maupun Crossref. Dari semua cara tersebut, Crossref sangat berguna ketika DOI tidak terlihat jelas karena menyediakan pencarian berdasarkan metadata artikel.
Setelah menemukan DOI, selalu cek melalui doi.org dan pastikan informasi yang muncul benar-benar sesuai dengan artikel yang Anda gunakan.
Untuk penulisan daftar pustaka, gunakan DOI dalam bentuk URL dan hindari membuat DOI secara manual apabila artikel memang tidak memilikinya.
FAQ
Apakah semua jurnal memiliki DOI?
Tidak. DOI bergantung pada apakah artikel tersebut didaftarkan melalui lembaga registrasi DOI oleh penerbit atau organisasi yang berwenang.
Di mana DOI biasanya berada?
DOI biasanya terdapat pada halaman artikel, halaman pertama PDF, informasi bibliografi, atau bagian citation pada website jurnal.
Apakah DOI sama dengan ISSN?
Tidak. DOI mengidentifikasi objek publikasi tertentu, sedangkan ISSN mengidentifikasi serial atau jurnal sebagai suatu terbitan.
Bagaimana mencari DOI jika hanya punya judul artikel?
Gunakan Crossref Metadata Search dengan memasukkan judul artikel dan, bila perlu, nama penulis atau tahun publikasi.
Apakah DOI harus dicantumkan dalam daftar pustaka?
Tidak semua referensi memiliki DOI. Namun, jika artikel memiliki DOI, penggunaannya sangat dianjurkan dalam format APA 7th Edition.

