Tidak semua masalah penelitian dapat dijelaskan hanya dengan angka atau narasi. Ada fenomena yang membutuhkan data kuantitatif untuk mengetahui pola, hubungan, atau besarnya pengaruh, tetapi juga memerlukan data kualitatif untuk memahami alasan dan konteks di balik temuan tersebut.
Dalam kondisi seperti inilah peneliti dapat menggunakan mixed method. Pendekatan ini menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif dalam satu penelitian dengan tujuan memperoleh pemahaman yang lebih lengkap terhadap suatu masalah. Johnson, Onwuegbuzie, dan Turner menempatkan mixed methods sebagai salah satu pendekatan penelitian yang mengombinasikan unsur kuantitatif dan kualitatif secara terencana.
Apa Itu Mixed Method?
Mixed method adalah pendekatan penelitian yang menggunakan data kuantitatif dan kualitatif dalam satu studi serta mengintegrasikan kedua jenis data tersebut dalam proses penelitian.

Faktor penting dalam mixed method bukan sekadar menggunakan kuesioner dan wawancara secara bersamaan, kenapa?
Kedua pendekatan harus memiliki hubungan yang jelas, misalnya hasil kuantitatif digunakan untuk menentukan informan wawancara, atau hasil wawancara digunakan untuk menjelaskan temuan statistik.
Karakter utama mixed method adalah integrasi, bukan sekadar penjumlahan dua metode penelitian.
Mengapa Menggunakan Mixed Method?
Mixed method digunakan ketika satu pendekatan saja belum mampu menjawab pertanyaan penelitian secara memadai.
Contohnya begini: penelitian mengenai kepuasan mahasiswa terhadap layanan akademik dapat menggunakan survei untuk mengukur tingkat kepuasan. Namun, angka tersebut belum menjelaskan mengapa mahasiswa merasa puas atau tidak puas.
Peneliti kemudian dapat melakukan wawancara untuk menggali pengalaman mahasiswa secara lebih mendalam.
Hasil akhirnya bukan hanya mengetahui berapa tingkat kepuasan, tetapi juga memahami faktor yang membentuk pengalaman tersebut.
Jenis-Jenis Mixed Method
Desain mixed method dapat dibedakan berdasarkan urutan pengumpulan data dan hubungan antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Schoonenboom dan Johnson menekankan bahwa desain perlu mempertimbangkan tujuan, waktu pengumpulan data, ketergantungan antarbagian penelitian, serta titik integrasi data.
1. Sequential Explanatory Design
Desain ini dimulai dengan penelitian kuantitatif, kemudian dilanjutkan penelitian kualitatif.
Kuantitatif → Kualitatif
Misalnya saja survei menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa memiliki tingkat kepuasan yang rendah. Peneliti kemudian melakukan wawancara untuk mengetahui alasan di balik hasil tersebut.
Desain ini cocok ketika hasil statistik membutuhkan penjelasan lebih mendalam.
2. Concurrent Design
Pada desain ini, data kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan dalam periode yang relatif bersamaan.
Kuantitatif + Kualitatif
Kedua hasil kemudian dibandingkan atau diintegrasikan untuk memperoleh kesimpulan yang lebih komprehensif.
3. Embedded Design
Dalam desain embedded, salah satu pendekatan menjadi metode utama, sedangkan pendekatan lainnya digunakan sebagai pelengkap.
Sebagai contoh sederhananya begini, penelitian eksperimen dapat menggunakan data kuantitatif sebagai hasil utama dan wawancara sebagai data tambahan untuk memahami pengalaman peserta selama mengikuti perlakuan.
Tahapan Penelitian Mixed Method
Penelitian mixed method dapat dilakukan melalui tahapan:
Menentukan masalah → merumuskan pertanyaan penelitian → menentukan desain mixed method → mengumpulkan data → menganalisis data kuantitatif dan kualitatif → mengintegrasikan hasil → menarik kesimpulan.
Titik integrasi menjadi bagian yang sangat penting. Peneliti perlu menjelaskan bagaimana kedua jenis data saling berhubungan sehingga menghasilkan interpretasi yang lebih kuat.
Contoh Penelitian Mixed Method
Contoh sederhana:
“Efektivitas Gamifikasi terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Siswa.”
Tahap pertama menggunakan pendekatan kuantitatif melalui pretest dan posttest untuk mengetahui perubahan hasil belajar.
Tahap kedua menggunakan wawancara untuk memahami pengalaman siswa selama menggunakan media pembelajaran berbasis gamifikasi.
Hasil kuantitatif menjawab apakah terjadi perubahan, sedangkan data kualitatif membantu menjelaskan bagaimana dan mengapa perubahan tersebut terjadi.
Kelebihan dan Kekurangan Mixed Method
Kelebihan utama mixed method adalah kemampuan memberikan gambaran yang lebih luas sekaligus mendalam. Data numerik memberikan informasi mengenai pola atau besaran suatu fenomena, sementara data kualitatif memberikan konteks dan interpretasi.
Namun, desain ini juga membutuhkan waktu, sumber daya, dan kompetensi yang lebih besar karena peneliti harus mengelola dua pendekatan penelitian. Selain itu, desain harus direncanakan dengan baik agar data kuantitatif dan kualitatif benar-benar terintegrasi, bukan berjalan sebagai dua penelitian yang terpisah.
Kesimpulan
Mixed method merupakan pendekatan penelitian yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.
Kunci utamanya bukan menggunakan dua metode secara bersamaan, melainkan memastikan keduanya terintegrasi dan saling melengkapi dalam menjawab pertanyaan penelitian. Karena itu, pemilihan desain mixed method harus dilakukan sejak awal berdasarkan tujuan penelitian, urutan pengumpulan data, dan bagaimana hasil kedua pendekatan akan diintegrasikan.
Perlu Publikasi Jurnal Ilmiah?
Hubungi tim expert dari GoAcademica untuk konsultasi gratis menentukan tujuan jurnal Anda melalui jasa publikasi jurnal SINTA.
Referensi
- Creswell, J. W., & Plano Clark, V. L. (2018). Designing and conducting mixed methods research (3rd ed.). SAGE Publications.
- Johnson, R. B., Onwuegbuzie, A. J., & Turner, L. A. (2007). Toward a definition of mixed methods research. Journal of Mixed Methods Research, 1(2), 112–133. https://doi.org/10.1177/1558689806298224
- Schoonenboom, J., & Johnson, R. B. (2017). How to construct a mixed methods research design. Kölner Zeitschrift für Soziologie und Sozialpsychologie, 69, 107–131. https://doi.org/10.1007/s11577-017-0454-1
- Tashakkori, A., & Teddlie, C. (Eds.). (2003). Handbook of mixed methods in social & behavioral research. SAGE Publications.
- Plano Clark, V. L., & Ivankova, N. V. (2016). Mixed methods research: A guide to the field. SAGE Publications.
- Bryman, A. (2007). Barriers to integrating quantitative and qualitative research. Journal of Mixed Methods Research, 1(1), 8–22. https://doi.org/10.1177/2345678906290531
- Fetters, M. D., Curry, L. A., & Creswell, J. W. (2013). Achieving integration in mixed methods designs—Principles and practices. Health Services Research, 48(6 Pt 2), 2134–2156. https://doi.org/10.1111/1475-6773.12117
- Guetterman, T. C., Fetters, M. D., & Creswell, J. W. (2015). Integrating quantitative and qualitative results in health science mixed methods research through joint displays. Annals of Family Medicine, 13(6), 554–561. https://doi.org/10.1370/afm.1865
- Johnson, R. B., & Onwuegbuzie, A. J. (2004). Mixed methods research: A research paradigm whose time has come. Educational Researcher, 33(7), 14–26. https://doi.org/10.3102/0013189X033007014
- McKim, C. A. (2017). The value of mixed methods research: A mixed methods study. Journal of Mixed Methods Research, 11(2), 202–222. https://doi.org/10.1177/1558689815607096

